Selat Hormuz: Dari Jalur Rempah hingga Nadi Energi Dunia

February 18, 2026 - 16:43
Selat Hormuz
1 dari 3 halaman

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia. Selat ini menghubungkan Teluk Persia di barat dengan Teluk Oman di timur, sekaligus menjadi pintu keluar utama negara-negara Teluk menuju perairan internasional. Di sisi utara terbentang wilayah Iran, sementara di selatan terdapat Uni Emirat Arab dan Oman.

Menurut data yang dihimpun dari Encyclopaedia Britannica dan World Atlas, panjang Selat Hormuz berkisar sekitar 160 kilometer dengan lebar antara 39 hingga 95 kilometer, tergantung titik pengukuran. Meski terlihat cukup luas, jalur pelayaran efektif bagi kapal tanker modern jauh lebih sempit karena dibagi menjadi dua koridor lalu lintas. Kondisi ini membuat kawasan tersebut sangat padat dan sensitif terhadap gangguan geopolitik (Encyclopaedia Britannica; World Atlas).

Asal-Usul Nama dan Warisan Kerajaan Ormus

Nama “Hormuz” diyakini berasal dari Kerajaan Ormus (Hormuz) yang berkembang antara abad ke-11 hingga ke-17 Masehi di kawasan tersebut. Sejumlah kajian sejarah menyebut istilah ini berakar dari bahasa Persia Hur-mogh, yang diartikan sebagai “pohon kurma”. Kerajaan Ormus pernah menjadi pusat perdagangan penting di kawasan Teluk sebelum mengalami kemunduran akibat persaingan regional dan intervensi kekuatan asing (Encyclopaedia Britannica; Willem Floor, The Persian Gulf: A Political and Economic History of Five Port Cities 1500–1730, 2006).

Jejak awal mengenai jalur pelayaran di kawasan ini bahkan telah dicatat sejak abad pertama Masehi dalam teks Yunani-Romawi, Periplus of the Erythraean Sea. Dalam karya tersebut digambarkan rute perdagangan yang menghubungkan India, Jazirah Arab, dan wilayah Mediterania, meskipun tidak secara eksplisit menyebut nama Hormuz (Casson, 1989).

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.