Penulis: Veny Ita Apriyanti, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang
Saya pernah memperhatikan seorang bapak tukang ojek di sebuah pasar. Ia berdiri lama di depan rak baju anak. Bukan karena bingung memilih model, tapi sepertinya ia sedang bertarung dengan label harga. Tangannya kasar, bajunya lusuh, tapi matanya pelan-pelan berbinar saat melihat kemeja kecil yang sedang diskon.
Tak sengaja, saya mendengar ia berbisik lembut kepada anaknya, “Ini buat Lebaran ya, biar kamu kayak anak orang lain.” Kalimat itu membuat saya terdiam.
Bapak itu kemudian membuka dompetnya pelan-pelan. Isinya hanya lembaran uang lama yang dilipat sangat rapi.
Ia menghitungnya berkali-kali, lalu ragu, dan menaruh kembali baju yang tadi ia pegang. Anaknya hanya terdiam. Tak menangis, tak meminta. Mungkin si kecil sudah terbiasa menahan keinginan.