DETIKMERDEKA - Revolusi Iran 1979 merupakan salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah politik abad ke-20. Revolusi ini menggulingkan monarki yang dipimpin oleh Mohammad Reza Pahlavi dan melahirkan Republik Islam di bawah kepemimpinan Ruhollah Khomeini. Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian rezim, melainkan transformasi menyeluruh atas struktur negara, ideologi politik, dan orientasi geopolitik Iran.
Akar krisis dapat ditelusuri pada kebijakan modernisasi yang dikenal sebagai White Revolution pada awal 1960-an. Program ini mencakup reformasi agraria, nasionalisasi sumber daya, industrialisasi, serta pemberian hak pilih bagi perempuan. Meski dirancang untuk mempercepat pembangunan, kebijakan tersebut memicu ketimpangan sosial dan ketidakpuasan luas. Kelompok ulama, pedagang bazaar, dan sebagian kelas menengah menilai modernisasi itu terlalu berpihak pada Barat dan menggerus identitas Islam Iran (Abrahamian, 2008; Keddie, 2006).
Selain faktor sosial-ekonomi, represi politik turut memperkeruh situasi. Aparat keamanan seperti SAVAK dikenal keras terhadap oposisi, membatasi kebebasan sipil dan memperkuat citra otoritarianisme rezim (Britannica, “Iranian Revolution”). Ketegangan memuncak pada 1978 ketika demonstrasi besar meletus di berbagai kota, dimulai dari Qom. Tradisi berkabung 40 hari dalam komunitas Syiah menciptakan siklus protes berulang yang memperluas mobilisasi massa secara nasional.