Faktor lain yang membuatnya bertahan adalah efisiensi. Konsumsi bahan bakar diesel yang relatif hemat menjadikannya pilihan rasional, terutama di tengah fluktuasi harga energi. Di banyak daerah, biaya operasional Panther masih dianggap lebih ekonomis dibanding kendaraan bensin berkapasitas serupa.
Ketersediaan suku cadang juga menjadi alasan mengapa mobil ini sulit “pensiun.” Onderdilnya mudah ditemukan, dari kota besar hingga wilayah kecil. Banyak bengkel umum pun sudah akrab dengan karakter mesinnya, sehingga perawatan tidak harus bergantung pada layanan resmi.
Secara fungsional, Panther juga dikenal fleksibel. Kabin luas dan konfigurasi kursi yang mudah diatur membuatnya adaptif untuk berbagai kebutuhan angkut keluarga, barang, hingga operasional usaha kecil. Dalam konteks ini, Panther bukan sekadar kendaraan pribadi, tetapi juga alat produktivitas.
Produksinya memang telah dihentikan, namun eksistensinya belum benar-benar hilang. Di jalanan, Panther lama masih kerap terlihat beroperasi normal bukan sebagai kendaraan nostalgia, melainkan kendaraan kerja yang aktif.
Di sinilah stigma dan reputasi bertemu. Ia mungkin tak lagi relevan dalam standar kemewahan modern, tetapi tetap relevan dalam urusan ketangguhan.