Pada masa Presiden Lázaro Cárdenas (1934–1940), penanganan kasus narkotika dialihkan ke Procuraduría General de la República (PGR) (PGR, 2003). Meski negara memperkuat kerangka hukum, perdagangan tetap berlangsung, terutama karena sebagian besar produksi ditujukan untuk ekspor ke Amerika Serikat. Astorga (1999) menyebut Sinaloa sebagai wilayah penghasil opium utama di Amerika Latin pada periode pasca-Perang Dunia II.
Dominasi Meksiko semakin kuat pada 1960-an. Negara ini menjadi pemasok utama heroin dan mariyuana ke Amerika Serikat. Ketika jaringan heroin dari Timur Tengah dan Prancis dibongkar pada awal 1970-an, kelompok Meksiko mengambil alih pasar. Data Drug Enforcement Administration (DEA, 2004) menunjukkan bahwa pada 1974 pengedar Meksiko menguasai sekitar 75 persen pasar heroin di Amerika Serikat.
Pemerintah AS merespons melalui kebijakan “Operation Intercept” pada 1969 yang diluncurkan Presiden Richard Nixon (Doyle, 2003). Pemeriksaan ketat di perbatasan memperlambat arus barang dan mempertegang hubungan bilateral. Namun, tekanan tersebut tidak menghentikan bisnis. Jaringan penyelundup justru semakin terorganisasi dan adaptif.
Sejak akhir abad ke-20, perdagangan narkotika di Meksiko berevolusi menjadi struktur kartel modern. Menurut laporan DEA (2002; 2003a), kelompok-kelompok ini memanfaatkan teknologi komunikasi, sistem keuangan global, dan jalur transportasi kompleks. Meksiko juga berkembang sebagai produsen metamfetamin serta jalur transit utama kokain dari Amerika Selatan ke Amerika Serikat.