Kekerasan yang kerap mewarnai Meksiko hari ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perdagangan narkotika di negara tersebut. Fenomena kartel bukanlah gejala baru, melainkan hasil proses historis yang berkembang sejak akhir abad ke-19..
Wilayah barat laut Meksiko, khususnya Sinaloa, telah mengenal budidaya opium sejak sebelum 1900-an. Pada masa itu, opium belum sepenuhnya dilarang dan bahkan masih diperdagangkan secara legal hingga 1926 (Astorga, 1999). Selain opium, ganja juga telah lama menjadi komoditas penting. Toro (1995) menyebut Meksiko sebagai salah satu sumber utama ganja sejak awal abad ke-20.
Menariknya, konsumsi opium pada periode awal tidak meluas di kalangan masyarakat umum. Menurut Luis Astorga (1996), penggunaan opium lebih banyak ditemukan di komunitas imigran Tionghoa, kalangan seniman, dan kelompok elite tertentu. Dengan kata lain, narkotika belum menjadi persoalan sosial besar seperti yang terjadi di kemudian hari.
Letak geografis Meksiko yang berbatasan langsung dengan Amerika Serikat menjadi faktor krusial. Pada 1916–1920, perdagangan narkoba berkembang di kota perbatasan seperti Mexicali dan Tijuana (Astorga, 1999). Kota-kota ini menjadi pintu distribusi utama menuju pasar Amerika. Memasuki 1930-an, jaringan penyelundupan meluas melalui jalur kereta api dan kota seperti Nogales serta Ciudad Juárez, memanfaatkan infrastruktur legal untuk kepentingan ilegal.