Penulis: I Gusti Ngurah Bagus Nurlastama, Praktisi Sumber Daya Air dan Mahasiswa Program Magister Universitas 17 Agustus Surabaya
Banjir di Kota Denpasar bukan lagi fenomena alam semata, melainkan cerminan dari persoalan tata kota dan pengelolaan lingkungan yang belum optimal. Dalam beberapa tahun terakhir, kejadian banjir bahkan semakin meluas dan berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat serta perekonomian kota.
Secara alami, curah hujan tinggi memang menjadi pemicu utama banjir. Namun, kondisi di Denpasar menunjukkan bahwa faktor manusia memiliki peran yang tidak kalah besar. Sungai-sungai seperti Tukad Badung kerap meluap saat hujan deras karena tidak mampu menampung debit air yang meningkat . Hal ini diperparah dengan kondisi drainase yang tidak berfungsi optimal.
Salah satu akar masalah yang paling nyata adalah sampah. Sampah yang menyumbat saluran air, baik dari aktivitas lokal maupun kiriman dari hulu, menyebabkan aliran air terhambat sehingga mudah meluap ke permukiman . Bahkan, krisis pengelolaan sampah disebut sebagai salah satu pemicu utama banjir parah di Bali . Ini menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya isu kebersihan, tetapi juga berkaitan langsung dengan bencana.
Kenapa sampah dapat menyumbat aliran tidak terlepas dari pengelolaan sampah dan kebijakan pengelolaan sampah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Bali yang menutup TPA Suwung sedangkan masyarakat belum mendapat bantuan dalam melakukan pengolahan sampah secara mandiri yaitu berupa “TEBE MODERN” , sehingga terjadi penumpukan sampah di pinggir jalan yang ada di kota Denpasar karena larangan buang sampah organik ke TPA Suwung.