Selesai senam, perwakilan mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk menyapa para siswa dan memberikan motivasi singkat. Melalui bahasa tubuh yang hangat dan isyarat sederhana, mahasiswa berusaha memberikan dorongan agar siswa lebih percaya diri dalam
mengekspresikan kemampuan mereka.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan senam lantai yang dipandu oleh guru olahraga. Matras disiapkan dan guru dengan sabar memberi contoh dan membimbing secara langsung.
Tepuk tangan dan senyum bangga menghiasi wajah siswa setiap kali mereka berhasil melakukan suatu gerakan, sementara dukungan diberikan kepada mereka yang kurang percaya diri. Dalam seluruh rangkaian kegiatan, guru-guru di SLB-B YPAC Banda Aceh menunjukkan
dedikasi luar biasa.
Mereka bukan hanya pengajar tetapi juga pendamping penuh kesabaran dan empati. Cara mereka membimbing, menenangkan, hingga memberi apresiasi sekecil apa pun menggambarkan pelayanan yang berorientasi pada hati.
Kunjungan ke SLB-B YPAC Banda Aceh bukan hanya perjalanan akademik tetapi juga pengalaman yang membuka pemahaman lebih luas tentang pentingnya memperlakukan setiap individu dengan penghargaan bukan asumsi dan dengan pemahaman bukan stigma.
Kami melihat bahwa disabilitas bukanlah cerita tentang kekurangan, melainkan tentang keragaman, ketangguhan, dan keunikan dalam beradaptasi.
Pada akhirnya, membangun masyarakat inklusif dimulai dari kesadaran bahwa setiap individu, memiliki hak yang sama untuk
dihargai, didukung, dan diberi kesempatan untuk bersinar.