Srikandi Papera Aceh Menyatakan Butuhnya Industri Pengolahan Ikan di Aceh

May 12, 2024 - 13:23
Foto Dok: Istimewa
2 dari 2 halaman

Budi mengatakan besar armada kapal tangkap di Kota Banda Aceh yang berukuran 30-100GT belum memiliki penyimpanan dingin (Frozen on Board). ketiadaan sarana dan prasarana itu di kapal membuat mutu ikan menurun karena durasi melaut yang panjang.  Untuk menjaga ikan tetap segar, kata Budi, nelayan hanya mengandalkan pasokan es.

Hal ini membuat mutu ikan menurun dan sulit dijual dengan harga yang menguntungkan. Untuk itu,  upaya peningkatan kapasitas penyimpanan dingin di kapal, bagi yang melakukan penangkapan relatif lama, sangat penting.

Budi mengatakan nelayan Aceh harus mempertahankan kualitas ikan sejak ditangkap. Kendala pendanaan yang mungkin dihadapi dalam melengkapi sarana dan prasarana tersebut perlu didukung melalui fasilitasi kemudahan pembiayaan syariah sesuai qanun.

Budi juga mengungkapkan langkah Ditjen PDSPKP berkomunikasi dengan Unit Pengolahan Tepung Ikan di luar Banda Aceh, seperti PT Toba Surimi Indonesia, PT Asahi, dan CV Horizon dari Sibolga. "Ini kita kawal terus, karena kita percaya semua bagian ikan bisa diolah, termasuk ikan tak layak konsumsi, bisa jadi bahan tepung ikan atau pakan," kata Budi.

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.