Ibarat pepatah, setiap pada yang ditanam, pasti ada ilalang yang ikut tumbuh. Artinya, tantangan pendidikan yang memanusiakan manusia mesti terus dikobarkan meskipun tren pendidikan hari ini makin mengarah pada feodalisme dan kolonialisme secara elite di tengah dominasi kekuasaan tidak mengarah pada pembelaannya terhadap aspirasi kemanusiaan rakyat Indonesia
Tanpa memprioritaskan nilai-nilai kemanusiaan melalui semangat pendidikan di alam terkembang ini, selama ini pula manusia tidak berharga dalam sistem sosial. Tolak ukur martabat manusia akan selalu dinilai dari aspek materil yang selalu menjadikan manusia-manusia semakin haus dengan material tersebut
Fakta inilah mungkin ada yang mengatakan generasi atau mentalitas Komunis itu masih ada dan akan selalu ada. Demikian pula mentalitas borjuis itu juga akan selalu ada. Apapun zamannya, di manapun daerahnya, umat manusia barangkali akan selalu dijepit oleh dua arus yang menjadikan manusia hidup jauh dari tujuan penciptaannya
Bukankah manusia diciptakan untuk saling menebarkan manfaat bagi sesama umat manusia lainnya? Lantas mengapa dunia menampakkan cara kerjanya bahwa kehidupan umat manusia semakin munafik dengan sesama manusia? Bahkan manusia sendiri menjadikan kehidupannya lebih rendah dari benda, dan lebih buruk dari hewan.
Sehingga, dapatkah kita menggolongkan diri kita berada di bagian kelompok manusia yang mana?
Oleh : Zulfata
(Direktur Sekolah Kita Menulis/SKM dan penulis
buku “Membaca Indonesia: dari Kekuasaan, oleh dan untuk Kekuasaan)