Kesadaran manusia sebagai barang pun semakin nyata. Nyawa manusia tampak makin hari seperti tak berharga. Nyawa manusia nyaris seperti nyawa ayam sayur atau nyamuk yang pada situasi tertentu dapat dibunuh begitu saja
Memang dalam sejarah Indonesia tidak dapat dilepaskan oleh fakta adanya pembunuhan manusia, baik yang berdalih perang, perampokan, penculikan, penganiayaan, politik hingga wabah penyakit
Namun demikian, sejarah kelam ini jarang diangkat dalam dunia pendidikan nasional, sehingga tragisnya praktik pembunuhan akhir-akhir ini tampak semakin parah
Padahal, dulu maupun saat ini, praktik pembunuhan itu selalu ada. Mungkin inilah yang disebut sejarah mungkin berulang. Sejarah pembunuhan manusia dengan alasan materil. Sejarah menggantikan manusia dengan uang. Artinya, uang atau harta lebih berharga dari pada nilai kemanusiaan
Nasib kemanusiaan semakin terancam diperparah lagi dengan adanya perangkat algoritma/AI yang terus menggantikan peran manusia dalam menjalani aktivitasnya. Keinginan umat manusia untuk terus menempa nilai-kemanusiaannya tidak berbanding lurus dengan nilai yang menuhankan uang, harta dan jabatan
Pragmatisme manusia meningkat, keteladanan dan ketulusan manusia terjun bebas
Bagaimanakah situasi menghadapi kehidupan di era yang sedemikian? Tentu jawabannya adalah kebenaran akan selalu menang meskipun itu kapan akan terjadi. Selama keyakinan terhadap nilai-nilai ketuhanan dan keteguhan dalam beragama masih kuat, selama itu pula upaya memanusiakan manusia tersebut masih berlanjut meskipun tantangannya semakin besar
Langkah awal untuk mewujudkan penguatan semesta memanusiakan manusia tersebut, atau menghindari budaya yang menggantikan kemanusiaan dengan uang adalah dengan cara mengembalikan praktik-praktik pencerdasan melalui pendidikan yang memerdekakan manusia harus terus digalakkan