“Bisa saja mendukung Jokowi untuk Gerindra dan Jokowi termasuk juga korespondensi yang dibuat lebih meyakinkan dibanding kolaborasi lain, termasuk Prabowo Subianto yang dianggap sebagai satu-satunya kandidat yang dia sendiri memimpin partainya," jelasnya.
Sementara PDIP, justru mengalami hal yang sebaliknya. PDIP yang sebelumnya pernah meraih elektabilitas angka sebesar 26 persen, kini hanya bisa meraih elektabilitas sebesar 21 persen saja. Artinya, hanya terpaut 2 angka dengan Partai Gerindra.
“Pertama tetap dipegang PDIP dengan 21,5 persen tapi tingkat elektabilitas PDIP ini mengalami penurunan yang cukup besar karena tertinggi IPO pernah mencatat elektabilitas PDIP di angka 26 persen kemudian hari ini hanya di 21persen. Kemudian hari ini hanya di 21persen. Berarti ada perubahan yang cukup signifikan," sambung Dedi.
Survei ini diketahui menggunakan metode multistage random sampling (MRS) atau pengambilan sampel bertingkat. Metode ini memiliki kesalahan pengukuran atau margin of error 2,90 persen dengan tingkat akurasi data 95 persen. Selain itu, survei ini juga melibatkan 1.200 responden yang tersebar secara proporsional secara nasional. Untuk menguji validitas responden, IPO melakukan spot check pada 15 persen dari total populasi sampel.