Mencari Jejak Sebab Turunnya Nilai Transaksi di Pasar Pasar Rakyat

January 5, 2023 - 10:54
Photo: Nandang Sudrajat Ketua DPW APPSI Jawa Barat/Sekjen DPP PAPERA
2 dari 3 halaman

Sekedar contoh, Nataru adalah adanya kebiasaan bakar bakaran daging, sehingga menurut salah seorang pedagang daging di Kota Tasikmalaya menyampaikan bahwa momen tahun baru sebelum wabah Covid biasa dapat menghabiskan 20 ekor sapi setiap harinya sejak mulai Natal sampai tahun baru. Sekarang hanya mampu menghabiskan 5 ekor saja sangat sulit. Hal yang sama diakui oleh salah seorang pedagang daging di Garut, dulu sebelum Covid, untuk kebutuhan harian saja bisa menghasilkan 3 ekor par hari untuk tiga kios yang dimilikinya, sekarang memotong sapi 1 ekor saja dijajakan di 3 kios milikknyabyerkadang baru habis sampai dua hari.

Bergeser ke komoditas sayuran, bumbu bumbuan dan kuliner. Beberapa pedagang yang ditemui di beberapa pasar menyampaikan bahwa volume transaksi turun drastis antara 30% sampai 70%, bahkan kadang lebih rendah lagi. Contohnya kalau dulu cabe rawit per hari bisa habis 20 kg, sekarang hanya 5 atau 6 kg. Ketimun duluan bisa habis 100 kg per hari, sekarang paling 25 sampai 30 kg saja. Sedangkan penjaja kuliner di salah satu tempat di Garut menceritakan kalau  menjelang tahun baru biasanya dari buka sampai malam bisa meraup omset minimal hingga Rp 500 ribu, malam tahun baru kemarin dengan tegang waktu yang sama hanya dapat Rp 150 ribu saja.

Beberapa pedagang menyampaikan sepinya pasar dari pembeli karena turunnnya daya beli masyarakat. Ketika ditanya lebih lanjut tentang itu, mereka rata rata berdalil, bahwa cirinya dapat dilihat dari perilaku konsumen yang lebih memilih mengurangi volume belanja lebih kecil dari pada biasanya, atau lebih memilih alternatif komoditas yang lebih murah, tetapi dinilai mempunyai nilai gizi yang sama. Contoh telor ayam diganti oleh telor puyuh.

Penulis menemukan fakta lapangan seperti itu sampai tulisan ini dibuat, jujur karena belum puas terhadap jawaban pedagang yang berkesimpulan, bahwa sepinya pasar dari pembeli karena penurunan daya beli masyarakat.

Ketidak percayaan itu, lantaran penulis tahu persis komplekaitas tantangan yang ada di pasar rakyat, setidak tidaknya ada 11 persoalan yang bisa mendegradasi eksistensi pasar rakyat, antara lain : regulasi, infrastruktur, pengelolaan, modal, SDM, sumber barang, persaingan yang tidak seimbang, pasar on line, alas hak kios, dan lain sebagainya. Itu menurut penulis latar belakang daya saing pasar rendah.

Kalau karena adanya pasar on line, beberapa pasar saat ini sudah masuk dalam jaringan pasar.id nya BRI.

Tapi pernyataan pedagang tentang turunnya daya beli masyarakat, telah menggelitik hati hingga berhari hari. Dan sampai tulisan ini dibuat, tidak lain karena rasa penasaran atas apa yang saat ini terjadi di pasar rakyat.

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.