Mengacu pada laporan Bloomberg, risiko Indonesia mengalami resesi juga tergolong rendah, hanya sekitar 5 persen. Angka ini jauh di bawah beberapa negara lain seperti Brasil dan China (masing-masing 15 persen), serta Jepang dan Amerika Serikat yang mencapai 30 persen.
Menurut Airlangga, ketahanan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik yang mencapai 54 persen dari PDB, serta dukungan sektor pangan dan energi. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia bahkan telah mencapai swasembada beras sejak 2025, dengan produksi mencapai 34,7 juta ton dan stok Bulog sebesar 4,6 juta ton per 8 April 2026—tertinggi sepanjang sejarah.
Pemerintah juga terus memperkuat ketahanan energi melalui berbagai kebijakan, mulai dari implementasi B50, pengembangan energi surya, hingga peningkatan kapasitas kilang minyak.
Dari sisi fiskal, APBN berperan sebagai penyangga bagi masyarakat melalui berbagai program bantuan sosial. Kinerja penerimaan pajak juga menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga Maret 2026, penerimaan pajak tercatat mencapai Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen secara tahunan, dengan defisit tetap terkendali.
"Dan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar USD 148,2 miliar, itu setara dengan enam bulan impor," papar Airlangga.