Pada masa pemerintahannya, industri gula berkembang signifikan. Tercatat sekitar 17 pabrik gula berdiri di wilayah Kesultanan Yogyakarta dan sekitarnya. Dari keberadaan pabrik-pabrik tersebut, Kasultanan memperoleh pendapatan besar. Setiap pabrik gula disebut memberikan kontribusi sekitar ƒ200.000 (gulden) kepada Sultan, angka yang sangat besar pada masa itu.
Perkembangan industri gula juga mendorong pembangunan infrastruktur transportasi. Jalur kereta api dibangun untuk mengangkut hasil produksi dari perkebunan menuju pelabuhan. Proyek ini diprakarsai oleh perusahaan swasta Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Kehadiran kereta api tidak hanya mempercepat distribusi komoditas, tetapi juga mengubah wajah ekonomi dan mobilitas masyarakat di Yogyakarta.
Namun, di balik modernisasi ekonomi tersebut, rakyat tetap menghadapi tekanan akibat sistem sewa tanah dan dominasi perusahaan-perusahaan perkebunan. Modernisasi berjalan beriringan dengan ketimpangan sosial yang tetap terasa di kalangan petani
Kebijakan dan Warisan Kepemimpinan
Hamengku Buwono VII dikenal sebagai sosok yang relatif terbuka terhadap modernisasi, namun tetap menjaga tradisi keraton. Ia melakukan sejumlah pembaruan administratif di lingkungan Kesultanan, termasuk penataan birokrasi dan penguatan struktur pemerintahan internal.
Di bidang pembangunan fisik, ia melakukan renovasi dan perluasan kompleks Keraton Yogyakarta. Salah satu warisan penting pada masa pemerintahannya adalah pembangunan dan penyempurnaan berbagai bangunan keraton yang mencerminkan perpaduan arsitektur Jawa dan pengaruh Eropa.