Bagi banyak rakyat Iran, Shah tidak lagi dipandang sebagai pemimpin nasional, melainkan simbol ketundukan pada kepentingan Barat.
Munculnya Ayatollah Khomeini
Di tengah ketidakpuasan publik, muncul tokoh oposisi utama: Ayatollah Ruhollah Khomeini. Seorang ulama Syiah yang lantang mengkritik Shah, Khomeini diasingkan ke luar negeri selama bertahun-tahun, mulai dari Turki, Irak, hingga Prancis.
Meski berada di pengasingan, pengaruh Khomeini justru semakin kuat. Pesan-pesan perlawanan disebarkan melalui kaset rekaman ceramah yang diselundupkan ke Iran. Media sederhana ini berhasil menyatukan berbagai kelompok—ulama, pedagang, mahasiswa, hingga kelas menengah—dalam satu tujuan: menggulingkan Shah.
Pada 1978, protes meletus di berbagai kota. Setiap aksi yang berujung korban jiwa justru memicu gelombang demonstrasi baru, mengikuti tradisi berkabung 40 hari dalam Syiah. Pola ini menciptakan siklus protes yang semakin besar dan tak terbendung.
Jatuhnya Monarki dan Lahirnya Republik Islam