Penulis: Umi Lailatul Muniroh - Mahasiswa Program Magister Manajemen, Universitas Muhammadiyah Ponorogo
DUNIA kerja hari ini sedang tidak baik-baik saja. Di satu sisi, kita merayakan lompatan teknologi bernama Artificial Intelligence (AI) yang menjanjikan efisiensi tanpa batas.
Di sisi lain, tajuk berita media massa terus dihiasi dengan narasi suram mengenai gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang melanda berbagai sektor, mulai dari perusahaan rintisan hingga raksasa teknologi global.
Muncul sebuah pertanyaan besar yang menghantui ruang-ruang diskusi mahasiswa dan pekerja muda: Apakah AI adalah "rekan kerja" baru, atau justru "algojo" yang siap menebas keberlangsungan karier kita?
Pergeseran Paradigma, Bukan Sekadar Penggantian
Kita harus jujur bahwa ketakutan akan teknologi bukanlah barang baru. Sejarah mencatat bahwa revolusi industri selalu membawa kecemasan serupa. Namun, AI kali ini berbeda.
Ia tidak hanya menggantikan otot, tetapi mulai merambah ke wilayah kognitif—wilayah yang selama ini kita banggakan sebagai domain eksklusif manusia.
PHK yang terjadi belakangan ini memang sering dikaitkan dengan efisiensi operasional.