Gen Z : Menambang Cuan Diatas Awan, Peluang atau Jebakan?

January 27, 2026 - 18:27
2 dari 3 halaman

Demokratisasi Keuangan atau Spekulasi Buta?

Munculnya berbagai platform fintech telah meruntuhkan tembok eksklusivitas. Dulu, investasi dianggap rumit.

Kini, dengan uang saku seharga segelas latte, seorang mahasiswa sudah bisa memiliki pecahan aset global. 

Sifat kripto yang terdesentralisasi memberikan rasa kendali penuh—sesuatu yang sangat dicari oleh generasi yang kritis terhadap sistem birokrasi ini.

Namun, di balik angka-angka pertumbuhan yang menggiurkan, tersimpan risiko yang nyata. Survei dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan meskipun indeks inklusi keuangan kita sudah mencapai 85%, indeks literasi keuangan masih tertinggal di angka sekitar 49%. 

Ada jurang lebar di sini: banyak Gen Z yang sudah memiliki akun investasi (inklusi), tetapi belum paham betul cara kerja dan risikonya (literasi).

Antara FOMO dan Realitas Ekonomi

Banyak anak muda terjun ke dunia kripto karena dorongan Fear of Missing Out (FOMO). Mereka melihat influencer pamer kekayaan (flexing), lalu ikut-ikutan tanpa riset.

Padahal, volatilitas kripto sangat ekstrem; sebuah aset bisa naik 100% dalam semalam, namun bisa merosot hingga titik nol di pagi berikutnya.

Sebagai bagian dari civitas akademika, kita harus melihat ini secara jernih. 

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.