Bukan Sekadar Teknologi,Transformasi Digital Butuh Mindset Lintas Generasi

December 30, 2025 - 14:35
Era Digital
1 dari 3 halaman

Penulis: Kadziah Intiaz - Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang (Unpam). Artikel ditulis dalam rangka memenuhi tugas kuliah Dosen, Dr. Surti Wardani, S.Sos., M.Si.

KESUKSESAN Transormasi Digital dalam sebuah perusahaan tidak hanya dilihat berdasarkan kecanggihan teknologi yang diadopsi, namun juga dilihat berdasarkan kemampuan perusahaan dalam menyesuaikan Budaya Korporat di lingkungan pekerjaan. 

Apalagi, tantangan Transformasi Digital saat ini semakin terlihat di tengah lingkungan kerja yang diisi oleh berbagai generasi atau multi generations.

Budaya kerja antar generasi ini memiliki keunikannya tersendiri. Dikutip dari laman Talent Hunts: “Baby Boomers mungkin lebih suka komunikasi langsung dan formal, sementara Gen Z lebih nyaman dengan komunikasi digital dan informal.”

Perbedaan nilai dan budaya kerja antar generasi ini sering kali memicu gesekan internal yang menyebabkan Transformasi Digital tidak berjalan dengan optimal. 

Oleh karena itu, perusahaan harus melakukan pembaruan dalam pola pikir (mindset) secara menyeluruh serta menyediakan pelatihan lintas generasi untuk mencegah konflik internal dan mendorong kolaborasi.

Artikel ini akan membahas bagaimana cara merancang ulang Budaya Kerja yang tangkas, bagaimana cara mengimplementasikan reverse mentorship dengan baik, serta menetapkan metrik evaluasi kerja yang akurat agar kita bisa mengukur apakah lingkungan kerja kita toxic atau tidak.

1. Memperbarui Nilai demi Keberlanjutan

Budaya Digital merupakan sistem operasional baru yang harus ramah pengguna bagi semua kalangan tanpa memandang usia, baik itu Boomers, Milenial, ataupun Gen Z.

Jika ingin mengadopsi budaya digital, perusahaan atau organisasi harus berani meninggalkan kebiasaan lama yang sudah tidak lagi efektif di zaman sekarang. Lalu, seperti apa contoh kebiasaan lama itu?

  • Dari Hierarki Kaku menuju Kolaborasi Lintas Fungsi: Perusahaan bisa mulai beralih ke struktur tim kecil yang mandiri dan tangkas atau agile squad. Hal ini bisa digunakan saat pengambilan keputusan. Tujuannya agar hasl dari pengambilan keputusan tersebut bisa dilakukan dengan cepat. Dengan cara memanfaatkan keahlian unik yang dimiliki setiap generasi.
  • Fokus pada Hasil (Output), Bukan Sekadar Kehadiran (Input): Milenial dan Gen Z sangat menyukai fleksibilitas. Jika pekerjaan mereka selesai dengan baik, akuntabilitas hasil jauh lebih penting daripada sekadar kehadiran fisik.
  • Keputusan Berbasis Data (Data-Driven): Perusahaan harus bisa menghindari pengambilan keputusan yang hanya karena intuisi atasan. Setiap langkah strategis harus didukung oleh data yang valid, agar menghindari debat kusir yang tidak produktif dan efektif.

2. Strategi Implementasi yang Menyatukan Perbedaan Menjadi Kekuatan

Bagaimana cara perusahaan menjembatani perbedaan budaya kerja yang diisi oleh lintas generasi?

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.