Sekolah Unggulan Prabowo-Gibran, Langkah Baru Menuju Indonesia Maju

October 13, 2025 - 20:41
Sekolah Rakyat tahun ajaran baru 2025-2026 mulai dilaksanakan pada Senin (14/7). Lantas, apa beda Sekolah Rakyat dan sekolah biasa? (Foto: ANTARA)
2 dari 3 halaman

Sekolah Garuda Mendidik Generasi Unggul

Selain Sekolah Rakyat, Prabowo juga menggagas Sekolah Garuda, sebuah model SMA unggul berasrama dengan standar global. Program ini diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMA Unggul Garuda, dan Digitalisasi Pembelajaran.

Sekolah Garuda akan mengintegrasikan kurikulum nasional dengan penguatan karakter dan akademik bertaraf internasional. Pemerintah menargetkan 80 sekolah unggul yang sudah ada dikembangkan menjadi Sekolah Garuda transformasi, serta membangun 20 sekolah baru hingga 2029.

Wakil Menteri Pendidikan, Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Stella Christie menjelaskan, program ini dirancang untuk menjawab kesenjangan akses pendidikan bermutu.

“Kami ingin sekolah garuda menjadi program negara yang berkelanjutan. Karena itu, sudah ada Instruksi Presiden yang mengikat, perpres yang segera ditandatangani, serta dukungan dana abadi agar pembiayaan sekolah ini terjamin dalam jangka panjang,” katanya, Rabu (1/10/2025).

Tahap awal, pemerintah memperkenalkan 12 sekolah unggulan yang menjadi bagian dari program transformasi, seperti SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh, SMA Taruna Nusantara Magelang, SMA Unggul Del Sumatera Utara, hingga SMA Averos Sorong di Papua Barat Daya.

Empat sekolah Garuda baru akan dibangun di Belitung Timur, Timor Tengah Selatan, Konawe Selatan, dan Bulungan. Pembangunan ditargetkan selesai Juni 2026.

“Kami ingin siswa sekolah garuda bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga terlatih untuk terjun langsung memberi manfaat bagi lingkungannya,” ujar Stella.

Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi

Pemerintah juga melaksanakan revitalisasi besar-besaran terhadap 13.834 sekolah dan 1.400 madrasah. Total anggaran mencapai Rp16,97 triliun. Revitalisasi ini meliputi perbaikan ruang kelas, toilet, laboratorium, hingga pembangunan sekolah baru.

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menyebut program ini tidak hanya meningkatkan mutu pendidikan, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah.

“Digitalisasi pembelajaran menutup kesenjangan pembelajaran, tunjangan guru lebih cepat sampai, pemberian insentif guru non-ASN, dan beasiswa membuka jalan masa depan anak bangsa. Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan pendidikan yang bermutu dan merata untuk semua,” katanya, pada Rabu 1 Oktober 2025.

Data Kemendikdasmen menunjukkan, hingga Oktober 2025 revitalisasi sudah menjangkau 16.170 sekolah, melampaui target awal 10.440 sekolah.

Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Gogot Suharwoto mengatakan optimalisasi dilakukan untuk mempercepat hasil program.

“Dengan proses optimalisasi tersebut kami berharap akan tercipta sarana dan prasarana pendidikan yang aman dan nyaman, sehingga semua warga sekolah dapat melakukan proses kegiatan belajar dan mengajar, serta meningkatkan kualitas mutu pendidikan,” ujarnya.

Di bidang pendidikan vokasi, jumlah sekolah yang direvitalisasi juga meningkat dua kali lipat menjadi 1.943 satuan pendidikan, terdiri dari SMK, SLB, dan pusat kegiatan belajar masyarakat.

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.