Sehingga ada argumentasi yang menyatakan bahwa menang dengan bermain curang lebih terhormat dari pada kalah secara terhormat. Pergulatan kekuasaan di Indonesia hari ini tidak mendapat tempat untuk tidak bermain curang.
Siapapun orangnya, siapapun penyelenggaranya. Semuanya terseret ke dalam sistem yang memang dirawat untuk memposisikan yang menang melalui proses politik curang, baik secara laten maupun terang-terangan.
Bermain curang dalam konteks kajian ini tentunya tak tersaring fakta hukum negara, meskipun negara itu sendiri terus menelurkan produk-produk hukum yang melestarikan kecurangan (kecurangan yang dilindungi secara hukum).
Barang siapa yang satu langkah di depan gesit bermain curang, maka poros politik itulah yang akan memenangkan permainan atau pertempuran politik.
Bagaimanakah praktik berpolitik secara curang tersebut mendekati keabadian? Jawabannya sangatlah kompleks, di antaranya melalui proses pengkaderan politik yang dijalani secara padat modal dan genetik politik tertentu.
Gelinding untuk berpolitik bermain curang ini cenderung bersifat musiman, sama halnya seperti seni beroposisi, pada rezim tertentu menjadi oposisi dan pada rezim tertentu pula menjadi pendukung.
Tanpa mengurangi rasa hormat, melalui ragam sosok orang yang pernah menjadi nomor satu di republik ini jika dikorek semakin dalam kiprah politiknya, baik secara kiprah politik birokrasi maupun kiprah politik finansialnya, maka akan ditemukan bentuk sisi gelap kecurangan politiknya.
Apakah kecurangan tersebut berdalih demi keselamatan negara maupun dalih mengatasnamakan kepentingan umum.
Dalam kontek ini pula bermain curang selalu dijadikan seni berpolitik bagi makhluk politis.
Bentuk kecurangan atau motif serta pelakunya terus menerus berkreasi mengikuti perkembangan zaman dan perilaku yang terbarukan yang dialami umat manusia