Karakteristik politisi yang pejuang itu biasanya, kalau dia jatuh 2 kali, dia akan bangkit 3 kali. Jatuh 5 kali dia akan bangun 6 kali, Jatuh lagi 10 kali, dia akan bangkit 11 kali. Itulah mentalitas seorang pejuang.
Oleh sebab itu, untuk memperjuangkan nilai-nilai (Pancasila) yang dianggapnya benar, Prabowo tak pernah mudah menyerah. Bagaimana pun keadaannya. Bahkan, ketika menerima menjadi Menhan RI, Prabowo harus melalui upaya rekonsiliasi dengan Presiden Jokowi yang merupakan rivalnya sendiri. Pada titik inilah, kita harus respect kepada Prabowo.
Bagi kebanyakan orang, sepintas terlihat seperti pragmatisme politik. Namun sebetulnya, proses yang dilakukan Prabowo untuk menerima itu, sudah dipikirkannya matang-matang. Mengorbankan harga dirinya, untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu “persatuan Indonesia”.
Dalam proses demokratisasi, terutama Pilpres 2024 hari ini misalnya, Prabowo, adalah satu-satunya Capres yang menempuh proses pencalonan Presiden sebagaimana idealnya menjadi seorang Presiden. Dari membuat partai, hingga membangun massanya sendiri. Melakukan kaderisasi kepemimpinan akar rumput hingga tataran atas. Semua dilakukannya dengan prosedur yang tak mudah.
Hal ini, tentu saja berbeda dengan calon-calon lainnya, yang hanya menggunakan popularitas sebagai modal untuk mendapat simpati massa. Inilah salah satu yang membedakan Prabowo dengan Capres lainnya.
Fakta ini sekaligus menjawab mengapa dalam 10 tahun terakhir ini, namanya selalu muncul sebagai Capres dengan elektabilitas yang cukup mentereng.
Capres Dengan Elektabilitas Menjanjikan
Dalam Survei LSI (Lembaga Survei Indonesia) terakhir misalnya, LSI menempatkan Menhan Prabowo di puncak elektabilitas. Prabowo menembus angka 30 persen di atas Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (26,9 persen), dan juga Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan (25,3 persen).