Ketika 'BBM Aman' Tak Lagi Cukup: Krisis Trust Pertamina dan Ujian Komunikasi Korporat

January 22, 2026 - 05:10
2 dari 3 halaman

Dalam kerangka komunikasi strategis Argenti (2023), tujuan utama komunikasi korporat saat krisis bukanlah membela diri, melainkan memulihkan kepercayaan (trust repair). Dengan kata lain, Pertamina tidak cukup hanya menjawab isu satu per satu, tetapi harus menggeser komunikasi dari sikap reaktif menjadi strategi yang benar-benar terintegrasi dengan pembenahan kebijakan internal.

Reuters mencatat bahwa Pertamina menyatakan komitmennya untuk meningkatkan transparansi dan memperbaiki tata kelola pasca mencuatnya kasus ini (Reuters, 2024). Namun, Argenti menekankan bahwa transparansi harus diwujudkan dalam bentuk informasi yang dapat diverifikasi, bukan sekadar pernyataan normatif.

Lebih jauh, Argenti (2023) mengingatkan bahwa krisis tidak hanya diuji di hadapan publik, tetapi juga di dalam organisasi itu sendiri. Karyawan bukan sekadar pekerja, melainkan wajah pertama reputasi perusahaan. Ketika mereka tidak mendapat penjelasan yang jelas dan konsisten, kebingungan internal mudah menjalar ke luar dan pada akhirnya memperkeruh krisis di ruang publik.

Langkah konkret yang realistis

Pertama, pada level komunikasi internal, Pertamina perlu membangun mekanisme “truth-first communication”, yakni penyampaian informasi faktual dan berkala kepada seluruh karyawan mengenai perkembangan kasus dan langkah pembenahan. Argenti (2023) menegaskan bahwa keselarasan internal adalah prasyarat stabilitas reputasi eksternal.

Kedua, pada level komunikasi eksternal, perusahaan perlu melampaui konferensi pers dengan menyediakan kanal transparansi publik, seperti laman khusus yang memuat pembaruan resmi, penjelasan teknis terkait kualitas BBM, serta saluran pengaduan konsumen yang responsif. Langkah ini relevan mengingat BPKN menekankan pentingnya perlindungan konsumen dalam polemik BBM (BPKN, 2024).

Ketiga, pada level tata kelola (governance), Pertamina harus mengumumkan secara terbuka audit kepatuhan dan penguatan kontrol internal yang disertai tenggat waktu dan indikator kinerja. Reuters (2024) menunjukkan bahwa pasar dan publik internasional memperhatikan apakah komitmen reformasi BUMN Indonesia benar-benar diwujudkan dalam sistem, bukan hanya retorika.

Penutup

Krisis yang dihadapi Pertamina hari ini adalah ujian serius bagi komunikasi korporat di sektor strategis. Dalam perspektif Argenti (2023), reputasi tidak bisa diselamatkan oleh Public Relation (PR) sebagai tameng, melainkan oleh keberanian organisasi menyelaraskan kembali identitas, nilai, dan tindakan nyata. Perusahaan energi nasional akan kehilangan kepercayaan publik, dan yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik korporasi, tetapi rasa aman kolektif masyarakat. Sehingga komunikasi korporat harus berani bergeser dari meminta dipercaya menjadi membuktikan bahwa kepercayaan itu layak diberikan.



 

DAFTAR REFERENSI

Argenti, P. A. (2023). Corporate Communication (8th ed.). New York: McGraw-Hill Education.

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.