Khairul menjelaskan kendala utama berupa ruang kelas dan halaman sekolah yang masih dipenuhi lumpur, material banjir yang menimbun bangunan, serta akses jalan yang belum bisa dilalui.
Di beberapa wilayah, madrasah masih digunakan sebagai lokasi pengungsian. Ada juga kawasan yang berstatus siaga bencana, seperti di Bener Meriah.
Meski begitu, 10 lembaga pendidikan yang roboh atau hanyut karena banjir sudah siap melaksanakan PBM dengan direlokasi ke tempat sementara, seperti masjid, meunasah, atau lapangan desa.
Khairul menegaskan Kemenag terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan relawan untuk mempercepat pemulihan sarana madrasah.
“Kami terus melakukan pendampingan dan koordinasi agar madrasah yang belum siap dapat segera menyusul. Prinsipnya, PBM hanya akan dilaksanakan jika kondisi benar-benar aman dan nyaman bagi peserta didik dan guru,” ujarnya.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menegaskan komitmen Kemenag dalam memastikan layanan pendidikan tetap berjalan.