Industri Tembakau Ekspansi, Produksi Rokok Oktober Naik 7,3 Persen

December 3, 2025 - 16:35
2 dari 3 halaman

Perlambatan IKI dipengaruhi variabel produksi yang turun 1,08 poin menjadi 47,49, menandakan kontraksi enam bulan berturut-turut. Variabel persediaan tetap ekspansif di 56,19 meski turun 0,33 poin.

“Kontraksi pada variabel produksi ini dipengaruhi oleh pelaku industri yang mengambil sikap wait and see dalam meningkatkan output, seiring permintaan yang belum sepenuhnya pulih, serta tekanan eksternal lain seperti fluktuasi nilai tukar dan dinamika geopolitik yang berdampak pada rantai pasok global,” ujarnya.

Nilai IKI November ditopang variabel pesanan yang naik 0,68 poin menjadi 55,93. Permintaan domestik meningkat, sementara IKI ekspor turun 0,17 poin ke 54,18. IKI domestik naik 0,37 poin ke 52,71.

“Peningkatan pada pasar domestik ini menunjukkan rebound dari kebijakan pemerintah yang mendorong belanja dalam negeri, meskipun kita harus waspada terhadap risiko limpahan produk dari negara-negara yang terdampak perang tarif global,” ungkapnya.

Tingkat optimisme terhadap kondisi usaha enam bulan mendatang naik menjadi 71 persen dari 70,5 persen pada Oktober. Tingkat pesimisme turun dari 5,4 persen menjadi 5,2 persen.

Sebanyak 78 persen responden menyatakan kegiatan usaha membaik atau stabil. Dari jumlah itu, 31,8 persen menyebut usaha membaik, 46,2 persen stabil, dan 22 persen menilai menurun.

Kemenperin mencatat 22 dari 23 subsektor industri pengolahan nonmigas berada pada fase ekspansi dengan kontribusi 98,8 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas triwulan III 2025. Dua subsektor dengan IKI tertinggi yaitu industri pengolahan tembakau dan industri farmasi.

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.