Justru jika hal ini dipandang sebalah mata, sungguh dikhawatirkan adalah gelombang pergeseran generasi X ke generasi Y dan Z dan akan menjadikan pasar tradisional semakin sepi pengunjung.
Maka dari itu, dipandang perlu untuk adanya program pemicu agar pasar tradisional dapat bergandengan tangan dengan kemajuan teknologi.
Secara umum, keberadaan pasar tradisonal cenderung berada di daerah pedesaan dan daerah pinggir kota. Pada posisi ini, keberadaan pasar tradisional secara langsung telah mampu menopang perekonomian rakyat. Selain mekanisme pasarnya tidak bersifat predatory pricing, pasar tradisional juga bersifat saling menopang antara pedagang satu dengan pedagang lainnya.
Demikian pula dengan aktivitas perekonomian di wilayah setempat juga hidup seiring dengan proses pasar, mulai dari sisi suplai, distribusi dan seterusnya.
Benar bahwa daya dongkrak kesejahteraan ekonomi nasional berbasis pasar tradisional belum membuahkan hasil. Pasar tradisional seringkali menjadi penyelamat rakyat ketika gempuran ekonomi global menghampiri Indonesia. Hal ini disebabkan karena pasar tradisional masih menjadi tumpuan ekonomi rakyat untuk bertahan hidup, sehingga saat rantai pasok global terganggu, paling tidak rakyat secara mandiri terus berusaha mencari solusinya agar aktivitas mereka sebagai pedagang pasar tradisional tidak terhenti, meskipun harga barang melejit menjadi taruhannya.
Secara empirik pasar tradisional terus bertahan sekuat mungkin dengan berbagai tantangan yang melanda, mulai dari tantangan penggusuran, harga barang mengalami kenaikan hingga tantangan minimnya infrastruktur pasar.
Jauh lebih mengerikan ke depan adalah ketika gaya berbelanja rakyat semakin jauh dengan pasar tradisional.