Saya memberondong Andrew dengan pertanyaan. Ia akhirnya mengaku berselingkuh lewat aplikasi kencan daring. Permintaan maaf ia lontarkan, tapi saya menolak. Gugatan cerai sudah terlintas, hingga Tuhan berkata lain. Saya hamil empat bulan.
Kami memutuskan tetap bersama demi anak-anak. Namun, luka itu tak pernah sembuh. Kehidupan rumah tangga berjalan hambar. Tak ada lagi kecupan sebelum tidur, tak ada obrolan hangat di pagi hari. Kami lebih sering tidur di kamar berbeda.
Di mata tetangga, Andrew tetap sosok ayah bertanggung jawab. Ia hadir di rumah, mengurus anak-anak. Dari luar, keluarga kami tampak sempurna. Dari dalam, penyakit rumah tangga menjalar. Kami sekadar tinggal bersama karena kewajiban.
Pernah suatu hari kami menghadiri acara bersama. Senyum harus terus saya tampilkan. “Ya ampun, kalian makin mesra aja,” kata seorang teman. Saya tersenyum, padahal hati getir. Genggaman tangan Andrew terasa hampa.