Empat Peneliti UNIDA Gontor Kembangkan Model Kurikulum Pesantren Putri Berbasis Pendidikan Holistik
Dari proses itu, mereka menemukan bahwa inti kurikulum di pesantren ini adalah pendidikan Islam yang bersifat holistik dan berorientasi pada kebutuhan perempuan—yang dalam istilah mereka disebut sebagai pendekatan nisa’iyyah.
Dr. Muhammad Faqih Nidzom menjelaskan bahwa pendidikan di Gontor Putri tidak berhenti pada penguasaan ilmu agama dan umum semata. “Yang dibentuk adalah kepribadian muslimah secara utuh. Pendidikan berlangsung sepanjang hari—di kelas, di asrama, dan dalam organisasi—sehingga lahir sosok Sitti Kulli, yakni perempuan Muslim yang cerdas, berakhlak, dan siap memimpin di ruang sosialnya,” ujarnya.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kurikulum Gontor Putri memadukan sistem Mu’allimin khas Gontor dengan pendekatan pendidikan perempuan melalui sinergi kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Profesionalisme guru, pembinaan karakter, serta latihan kepemimpinan menjadi pilar yang memperkuat sistem ini. Hasil akhirnya adalah lahirnya santriwati yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga berkarakter dan memiliki tanggung jawab sosial.
Menurut tim peneliti, model ini mencerminkan wajah pendidikan Islam yang sensitif terhadap isu gender tanpa tercerabut dari tradisi pesantren. Gontor Putri dinilai berhasil menyatukan nilai keislaman, ketajaman intelektual, dan kepekaan sosial dalam satu sistem pendidikan yang hidup sepanjang waktu.
Karena itu, model ini dinilai layak menjadi rujukan bagi pengembangan pesantren putri di berbagai daerah.
Secara akademik, temuan riset ini juga mendapat pengakuan. Salah satu artikel telah diajukan ke jurnal internasional Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS), sementara artikel lain berjudul “A Stable Islamic Curriculum: Cultivating Wisdom for a Sustainable Future” telah dipresentasikan dalam forum internasional ICOWICES di STABN Raden Wijaya, Wonogiri.