Empat Peneliti UNIDA Gontor Kembangkan Model Kurikulum Pesantren Putri Berbasis Pendidikan Holistik
PONOROGO – Pesantren di Indonesia terus tumbuh pesat. Dari jutaan santri yang menimba ilmu, hampir separuhnya adalah santriwati. Namun, di balik angka itu, muncul satu persoalan penting: banyak pesantren masih menggunakan kurikulum umum yang belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan khas santri perempuan.
Padahal, tantangan yang dihadapi muslimah hari ini, baik sosial, intelektual, maupun moral, kian kompleks dan membutuhkan pendekatan pendidikan yang lebih spesifik.
Berangkat dari realitas tersebut, empat peneliti dari Universitas Darussalam Gontor melakukan riset untuk merumuskan model kurikulum Islam yang lebih sesuai bagi pesantren putri.
Penelitian yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2025 ini mengusung judul “Model Kurikulum Pendidikan Islam untuk Pondok Pesantren Perempuan”. Tim peneliti dipimpin oleh Prof. Syamsuddin Arif bersama Dr. Abu Darda, Dr. Muhammad Faqih Nidzom, dan Nadaa Afifah Silmi, M.Ag.
Lokasi penelitian dipusatkan di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Mantingan. Pesantren ini dipilih karena memiliki sistem pendidikan yang menyatu antara pendidikan formal, pembinaan asrama, dan aktivitas organisasi santri. Di Gontor Putri, belajar tidak hanya terjadi di kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari santriwati, di bawah bimbingan guru dan kiai, serta dalam disiplin yang terjaga selama 24 jam.
Melalui pendekatan kualitatif berbasis Grounded Theory, para peneliti melakukan wawancara, observasi, dan kajian dokumen untuk menggali pola pendidikan di Gontor Putri.