Darurat Beras

February 12, 2024 - 18:43
Foto.Dok: Istimewa
2 dari 3 halaman

Penurunan itu, sejalan dengan menyusutnya luas panen tahun 2023, sekitar 2,45% atau 0,26 juta Ha, yaitu dari 10,45 juta Ha pada tahub 2022, menjadi 10,20 juta Ha pada tahun 2023.

El Nino, bukan hanya menyebabkan gagal panen, tetapi juga gagal tanam pada periode berikutnya. Gagal tanam tersebut,   mundur selama 3 bulan lebih, dari yang seharusnya. Artinya, mundurnya masa tanam selama 3 bulan lebih di beberapa wilayah sentra produksi padi nasional, sama dengan 1 periode masa tanam.

Itu artinya, kita kehilangan satu periode panen padi yang kalau mengacu pada masa panen tahun 2022 dan 2023, kita kehilangan peooduksi beras sebar 1/3 kemampuan produksi padi atau sama dengan 10,30 sampai dengan 10,51 juta ton.

Kondisi demikian, merupakan Force Majeure bagi kita. Sedangkan kebutuhan beras nasional, diketahui sebesar 2,5 juta ton per bulan. Dengan demikian,  akibat dampak El Nino, kita kehilangan kesempatan memproduksi beras, dengan volume sebagaimana  diuaraikan di atas, itu sama dengan,  kita kekurangan beras untuk masa konsumsi selama 4 bulan.

Persoalan Kedua adalah  secara nyata kita saat ini kekurangan pupuk. Kurangnya pasokan pupuk untuk kebutuhan petani, adalah rentetan dampak dari situasi geopolitik di kawasan laut hitam, yaitu terjadinya perang antara Rusia dengan Ukraina.

Kenapa demikian, fertilizer sebagai  sumber bahan baku pupuk utama, mayoritas diproduksi oleh negara eropa, dimana  jalur distribusinya melalui laut Hitam yang dikuasi oleh Rusia. Jadi apabila kita membutuhkan AN untuk bahan pupuk, tidak ada jalan lain harus ada izin dari otoritas Rusia sebagai pihak yang menguasai jalur pelayaran di laut hitam. Berdasarkan informasi,  ternyata izin tersebut memerlukan waktu tidak kurang dari 6 bulan. Dampak dari kondisi itu,  harga AN naik sampai 4 sampai  5 kali lipat. Itulah kenapa harga pupuk menjadi langka dan mahal.

Faktor alam tambahan lainnya, sedang terjadi saat ini, yaitu di beberapa sentra produksi padi, khususnya Jawa Tengah terjadi gagal panen,  akibat musibah banjir, antara lain Kudus, Pati dan Jepara.

Hikmah dari persoalan ini, ke depan negara harus gerak cepat melakukan upaya  program pengadaan pangan nasional, yang harus direncanakan secara tetintegrasi dari hulu ke hilir.

Program integrasi hulu - hilir dimaksud antara lain, Pertama melakukan ekstensifikasi lahan pangan nasional. Ini sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah saat ini, melalui program Food Station meskipun banyak memperoleh kritikan. Tetapi, menurut hemat penulis  foodstation secara konsep sudah benar, dan patut dilanjutkan. Tinggal dilakukan evaluasi di mana tantangan dan kekurangannya. Lakukan evaluasi, guna melakukan  perbaikan pada tataran implementasi selanjutnya ke depan.

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.