Analisis Konflik Iran – Israel berdasarkan teori  konflik Max Weber

March 27, 2026 - 10:35
Konflik Iran Israel
1 dari 3 halaman

Penulis: Samsuddin Alamsyah, Mahasiswa Sosiologi, UIN Sunan kalijaga

Pemenang tidak berpihak pada siapa yang jahat atau baik, benar atau salah, pemenang berpihak pada mereka yang lebih kuat. Polemik konflik Iran – Israel menuai berbagai opini publik yang saling melontarkan dalihnya masing-masing. Salah satu sudut pandang yang ramai diperbincangkan ialah sektor ekonomi. 

Berdasarkan perspektif Karl Marx disebut “determinisme Ekonomi”, bahwa konflik terjadi karena adanya perebutan kekuasaan di sektor ekonomi. Dalam konteks konflik Iran – Israel dapat ditinjau dari sisi  penutupan jalur Selat Hormuz sebagai salah satu jalur perdagangan minyak terbesar di dunia.

 Hal ini menguntungkan Amerika Serikat karena harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi US$ 72 per barel dari US$ 65-67 per barel.

Ditinjau dari teori konflik Max Weber, bahwa konflik tak hanya dipengaruhi oleh sektor ekonomi, namun juga dipengaruhi oleh apa yang disebut Max Weber sebagai prestise sosial dan pengaruh politik. Jika dikontekskan pada konflik Iran-Israel dalam ranah prestise sosial, menunjukkan bahwa keuntungan pemenang dari konflik tersebut akan mengakuisisi pengakuan prestise sosial dimata internasional.

 Bagi Israel yang disokong oleh Amerika Serikat akan semakin mengafirmasi statusnya sebagai negara adidaya. Sebaliknya jika Iran yang memenangkan konflik tersebut akan meneguhkan status Iran sebagai bangsa Persia yang dikenal sebagai bangsa yang besar. Siapapun pemenang dari konflik tersebut akan memiliki pengaruh politik yang kuat ditingkat internasional. 

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.