Konflik di Timur Tengah Memanas, Seberapa Tangguh Perbankan Indonesia Menghadapinya?
Penulis: Raditya Tri Sulistyo, Mahasiswa Ekonomi Syariah, IPB University
KETEGANGAN bersenjata di Timur Tengah pecah sejak serangan pertama yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu, hal ini telah menjadi perhatian khusus di seluruh dunia saat ini.
Konflik ini memicu kekhawatiran akan potensi guncangan ekonomi di seluruh dunia, sebab negara-negara di Timur Tengah seperti Irak, Kuwait, dan Arab Saudi merupakan negara dengan pemilik cadangan minyak terbesar di dunia.
Ketegangan berpotensi meluas setelah Iran menyatakan ancaman untuk melakukan blokade pada Selat Hormuz. Perlu diketahui bahwa Selat Hormuz berada di kawasan Timur Tengah, tepatnya adalah laut sempit di antara wilayah Iran dan Oman.
Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Selat ini menjadi objek vital berupa jalur perdagangan minyak mentah paling krusial di dunia yang mencakup sekitar 25% suplai minyak dunia. Sehingga apabila terjadi ketegangan atau konflik di area ini, maka aktivitas ekspor energi berpotensi mengalami kesulitan yang akan mengganggu keseimbangan ekonomi yaitu penawaran dan permintaan pasar energi.
Kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 40% pasokan minyak dunia, menjadikannya faktor penentu utama stabilitas pasar energi global. Data dari Refinitiv menunjukan, pada 2 Januari 2026 harga minyak brent masih berada pada kisaran USD 60,75/barel. Pada 26 Februari hingga 12 Maret 2026, harga minyak brent melonjak drastis hingga menyentuh USD 100/barel.
Begitu pula dengan minyak WTI yang saat ini menyentuh USD 94,21/barel. Blokade Selat Hormuz menyebabkan kapal-kapal tanker, terutama yang terafiliasi dengan Amerika dan Israel tidak bisa mengirimkan minyak dari negara-negara seperti Kuwait, Oman, dan Qatar.
Iran juga beberapa kali meluncurkan serangan balasan pada pangkalan militer dan instalasi energi milik Amerika yang ada di beberapa negara di Timur Tengah. Gangguan produksi dan distribusi ini lah yang menyebabkan kenaikan harga minyak di seluruh dunia mengalami kenaikan.