Dalam beberapa waktu terakhir, Iran sednag tidak baik-baik saja. Ribuan warga turun ke jalan, meneriakkan slogan perlawanan terhadap pemerintah. Bahkan, simbol lama Iran sebelum 1979, bendera bergambar Singa dan Matahari, kembali dikibarkan. Tidak hanya itu, baru-baru ini juga Iran sedang berada dalam posisi kewaspadaannya melihat keberadaan kapal induk Amerika Serita di kawasan Timur Tengah. Kondisi Iran dan keterhubungannya dengan Amerika serikat tentu bukanlah hal baru. Tentu hal ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Iran sedang mengulang Sejarah dan kembali berurusan lagi dengan Amerika Serikat?
Untuk memahami gejolak hari ini, kita perlu menengok kembali peristiwa penting yang terjadi 47 tahun lalu, ketika Iran mengalami salah satu revolusi paling berpengaruh di abad ke-20.
Iran di Bawah Kekuasaan Shah
Kisah Revolusi Iran bermula dari kepemimpinan Dinasti Pahlavi. Reza Shah Pahlavi naik ke tampuk kekuasaan pada 1925 setelah menggulingkan dinasti Qajar. Ia kemudian digantikan oleh putranya, Mohammad Reza Pahlavi, yang memerintah hingga 1979.
Di bawah Mohammad Reza Pahlavi, Iran menjalankan program modernisasi besar-besaran yang dikenal sebagai Revolusi Putih. Program ini mencakup pembangunan infrastruktur, reformasi pendidikan, industrialisasi, serta pemberian hak pilih kepada perempuan. Iran juga menjadi sekutu dekat Amerika Serikat dan negara-negara Barat, terutama karena kekayaan minyaknya.
Namun, modernisasi ini tidak berjalan mulus. Ketimpangan sosial semakin lebar. Elit kerajaan hidup mewah, sementara sebagian besar rakyat merasa terpinggirkan. Westernisasi dianggap dipaksakan dan mengabaikan nilai-nilai agama serta budaya lokal. Situasi semakin memburuk dengan keberadaan SAVAK, polisi rahasia yang terkenal represif dan kerap membungkam kritik dengan penangkapan dan penghilangan paksa.