Dampak Ekspor Limbah Elektronik AS ke Malaysia Terhadap Kualitas Lingkungan Laut Di Asia Tenggara

January 12, 2026 - 12:28
1 dari 3 halaman

 

 

Dampak Ekspor Limbah Elektronik AS ke Malaysia Terhadap Kualitas Lingkungan Laut Di Asia Tenggara. Penulis: 1. Winda Sandora  2. Widia Grace Tayan 3. Sagita Azarine SNA 4. Yumi Lestari Silalahi - Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Teknologi Yogyakarta.

 

PENINGKATAN volume ekspor limbah elektronik dari negara maju seperti Amerika Serikat ke negara berkembang di Asia Tenggara, telah menjadi isu lingkungan global yang mendesak.

Fenomena ini tidak hanya menimbulkan ancaman serius terhadap kualitas lingkungan laut, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan keberlangsungan ekosistem maritim di kawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia.

Negara maju seperti AS memindahkan limbah berbahaya ke negara berkembang melalui ekspor e-waste yang disamarkan sebagai bahan daur ulang, membebani negara penerima dengan biaya pengolahan tinggi. Perusahaan daur ulang AS yang bersertifikat R2v3 ternyata menjual limbah ke broker ilegal, menghindari standar lingkungan domestik mereka.

Limbah ini diolah oleh pekerja informal di ASEAN dengan minim pengawasan, menyebabkan paparan kesehatan langsung dan pencemaran tanah-air. Basel Action Network (BAN), lembaga pengawas internasional mengidentifikasi 10 perusahaan AS terlibat pada 2025, menyoroti pola transfer polusi sistematis ini.

BAN menyebut fenomena ini sebagai "hidden tsunami" karena aliran limbah elektronik yang masif dan sering kali dilakukan secara ilegal, serta sulit dilacak oleh otoritas perdagangan internasional.

Berdasarkan laporan dari BAN diperkirakan sekitar 33.000 ton e-waste dikirim dari AS ke Asia setiap bulan, termasuk Malaysia, melalui sekitar 2.000 kontainer. Antara Januari 2023 hingga Februari 2025.

Pengiriman limbah elektronik dari AS ke Malaysia mencapai sekitar 6% dari total perdagangan kedua negara, dengan nilai ekspor mencapai US$200 juta per bulan (sekitar Rp3,2 triliun), menunjukkan besarnya skala ekonomi di balik aliran limbah berbahaya ini.

Limbah elektronik ini kemudian dibongkar di scrapyard ilegal di Malaysia, terutama di kawasan Jenjarom dan Penang.

Proses pembongkaran sering dilakukan dengan membakar limbah secara terbuka, menghasilkan zat beracun seperti timbal, merkuri, dan BFR (brominated flame retardants) yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan ekosistem.

© 2026 Detik Merdeka | All rights reserved.