DETIKMERDEKA - Maraknya pencurian di dalam pesawat kini menjadi ancaman nyata bagi penumpang di rute sibuk Asia. Kejahatan disebut semakin terorganisasi dan menyasar pelancong bisnis dengan barang bernilai tinggi.
Otoritas penerbangan dan kepolisian bandara di sejumlah negara mencatat lonjakan signifikan kasus pencurian sepanjang 2024. Laporan South China Morning Post menyebutkan sindikat asal China menjadi perhatian utama.
Pakar penerbangan memperingatkan rute padat di Asia semakin sering menjadi target sindikat pencurian berkelompok. Uang tunai, kartu kredit, serta tas dan aksesori mewah di kompartemen atas kabin menjadi incaran.
Maskapai Asia-Pasifik mengangkut 365 juta penumpang internasional pada 2024, naik 30,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Seiring lonjakan penumpang, kasus pencurian di Malaysia dan Hong Kong melonjak hingga 70 persen.
Perwakilan maskapai dan otoritas menyebutkan penangkapan pelaku sebagai indikasi sindikat kriminal asal China. Fenomena meningkat sejak perjalanan internasional kembali dibuka pascapandemi Covid-19, ditambah kebijakan bebas visa di sejumlah negara Asia.
“Kenaikan pencurian di dalam pesawat tampaknya bersifat ‘terorganisasi’ dan sebagian besar dijalankan dari China,” kata Nick Careen, Wakil Presiden Senior International Air Transport Association (IATA).