Sederhananya, benang merah tulisan ini sejatinya hendak menyampaikan bahwa mekanisme kerja politik nasional di negeri ini tampak semakin keruh.
Laju kekuasaan terlalu kencang hingga dapat menabrak-menggilas apapun yang berusaha menghalanginya.
Konsekuensinya adalah pada waktunya akan tiba penyesuaian diri dengan keinginan para penguasa. Kejelian dan kecerdasan publik dalam memahami gelagat partai politik hari ini tidak lagi membuat rakyat antusias dalam apa yang disebut dengan gerakan perubahan atau politik penolakan program Jokowi jangka panjang.
Sebab yang mendengungkan perubahan tersebut juga bagian dari penyumbang ketimpagan pembangunan dengan maraknya kasus tersangka korupsi.
Mungkin kedewasaan publik hari ini secara tidak langsung menjadikan partisipasi publik menjadi lentur sekaligus mengedepankan sikap memaklumi. Memaklumi dominan elite yang tebar-tebar janji meski kemudian tak mampu memberi bukti.
Memaklumi menggerakkan perlawanan terhadap pemerintahan meskipun pada akhirnya akan menjadi bagian dari pemerintahan. Melalui kedewasaan politik publik sedemikianlah akan membuka jalan bagi publik untuk tidak ingin terlalu bersitegang dalam pemilu 2024.
Ibarat pepatah, “Gajah berkelahi di hulu, semut mati kelaparan di hilir”. Publik tidak ingin lagi terperosok ke dalam apa yang disebut resiko politik pasca-pilpres. Publik tak ingin lagi terkena getah politik.
Dengan kondisi sedemikian merupakan suatu langkah strategis bagi publik untuk menjalani atau menyikapi pemilu 2024 secara gemoy, gemes, penuh ketenangan, mengdepakan politik adaptif. Sebab kekuasaan memiliki aturan mainnya sendiri.
Ke-gemoya-an pemilu secara tidak langsung bermakna, pemilu jangan sibuk bertengkar dan mempertajam perbedaan, tetapi bersikap tenang, santai tapi pasti, dan terima realitas politik dengan sikap bijaksana. Tanpa menerapkan pemilu gemoy ini dikhawatir akan ada poros politik tertentu yang mengambil manfaat di atas ketidkaruan publik dalam berpartisipasi politiknya untuk menghadirkan pemimpin nasional di 2024.